Saturday, January 17, 2015

Tangan-tangan Perkasa di Jalur MRT Jakarta

Di balik alat-alat berat dan juga peralatan canggih lainnya, ada tangan-tangan pekerja yang memberikan sentuhan-sentuhan pada tiap-tiap sisi jalur MRT Jakarta, yang kini tengah dibangun di ruas Lebak Bulus - Bundaran HI. Jadi, jika suatu hari di tahun 2018 nanti, para bapak, ibu, om, tante, nenek, kakek, mas, mbak, kakak, abang, atau adik naik itu MRT Jakarta, bolehlah diingat bahwa di balik transportasi massal itu - ada sentuhan tangan dan peluh mereka. Foto-foto : Raihan Lubis










Saturday, January 10, 2015

Kenangan Masa Kecil : Ikut Umi ke Pasar

Pasar Sukowati, Ubud. Ketika masih tinggal di Ubud, 
tempat ini menjadi salah satu favorit tempat 
belanja kami. Selain dekat dengan rumah, 
juga banyak hal yang bisa dilihat di sini. 
Foto: Raihan Lubis
Salah satu kenangan indah di masa kecilku adalah ikut umi ke pasar pada hari libur sekolah. Karena kalau ikut ke pasar, artinya bisa beli kue jajanan pasar dan juga jepit rambut, bando, mainan masak-masakan atau pernak pernik lainnya. Selain itu juga bisa membeli majalah Bobo atau Ananda. Ah, betapa menyenangkannya.

Di Medan, orang menyebut pasar itu dengan kata ‘pajak’. Tidak tahu juga maksudnya apa dan kenapa disebut demikian. Jadi kalau ada yang bilang, “Mau ke pajak.” Berarti itu mau pergi ke pasar. Pasar yang dekat dengan rumah kami adalah Pajak Glugur. Disebut demikian karena dekat dengan jalan Glugur By Pass. Jauhnya pasar ini dari rumahku sekitar 1 km lebih kurang. Kalau pergi, kami akan berjalan kaki biasanya. Ketika pulang baru akan naik becak dayung. Ongkos dari Pajak Glugur ini ke rumahku berkisar Rp 250,- Entah kenapa, kalau dulu jarak pasar ini terasa tidak jauh. Kalau sekarang diminta mengulang, ah jauh sekali rasanya.

Saban belanja, umiku akan membawa keranjang. Seluruh belanjaan akan diletakkan dalam keranjang yang biasanya terbuat dari plastik. Belanjaan-belanjaan seperti keperluan dapur akan dibungkus dengan kertas koran, atau daun pisang. Khusus untuk belanjaan ikan segar, dibungkus dengan daun jati dan diikat dengan tali batang pisang. Tidak seperti sekarang yang apa-apa dibungkus dengan plastik kresek. Kalau dipikir-pikir betapa go green-nya ya orang-orang dulu.

Selesai belanja, kami akan melipir ke tempat pedagang kue jajanan pasar. Si ibu pedagang kue akan meletakkan kue-kuenya di atas tampah. Kue-kue ini akan ditutup dengan plastik bening atau daun pisang. Tampah besar itu disangga di atas bakul besar – dimana persediaan kuenya disimpan. Ada dua pedagang kue yang menjadi langganan kami. Dua orang ibu paruh baya yang kerap memakai kebaya pendek dengan bawahan kain sarung. Rambutnya disanggul cempol dan memakai selendang. Orang-orang tua dulu menutup kepalanya dengan selendang. Di Medan, selendang lebih sering diucap dengan kata tudung – mungkin berasal dari kata kerudung.

Kue yang sering kubeli adalah semacam kue bolu kukus gula merah yang ditaburi kelapa parut, atau ongol-ongol yang juga ditaburi kelapa parut juga kue lapis dari tepung beras serta klepon. Di Medan, kue klepon ini disebut juga dengan nama kue malaka- terbuat dari tepung ketan dan diberi warna hijau dari duan suji, dibentuk bundar dan diisi dengan gula merah di tengahnya serta ditaburi kelapa parut. Kue-kue yang kita beli akan dibungkus dengan daun pisang.

Sekarang, saban aku berkunjung ke berbagai kota, aku tak akan pernah lupa untuk singgah di pasar tradisionalnya. Selain melihat-lihat jajanan tradisionalnya, juga melihat kehidupan masyarakatnya. Akhir pekan macam begini, kalau ke pasar aku juga suka membawa anak-anakku. Mudah-mudahan juga bisa menjadi salah satu pengalaman yang menyenangkan bagi masa kecil mereka- ikut mama belanja ke pasar :D


Merindu Umi


Merindu Umi..
Merindu setengah mati denganmu umi, setelah setahun lebih tak mencium pipimu yang putih dan tak jua memijat kaki kuatmu yang kini agak ringkih.
Merindu setengah mati denganmu umi, dengan teh hangat buatanmu di pagi hari, dan sepiring nasi goreng yang ikut tersaji.
Merindu setengah mati denganmu umi,
dengan suara, derai tawa, wangi tubuh dan juga cerita-cerita menjelang malam sebelum kita tidur bersama.
Merindu setengah mati denganmu umi,
yang akhirnya hanya bisa kutebus lewat sebuah kotak bersuara dalam hari-hari yang menyesakkan dada
Merindu setengah mati denganmu umi, sangat merindumu dan ingin ada di dadamu… 
(Raihan Lubis, 8 Januari 2015)

Saturday, January 3, 2015

10 years after the wave - no more tears...

Setelah 10 tahun gempa maha dahsyat dan tsunami menyapu sebagian kawasan Aceh, luka dan duka mencair sudah. Tapi kita harus tetap siaga. Karena bencana dari dasar laut tak pernah dapat diterka (Raihan Lubis, 3 Januari 2015)

Thursday, January 1, 2015

2015

Langit tak rela melepas sinar rembulan malam ini
setelah menangis sekadarnya
ditinggalkannya gumpalan hitam di sana
dan jadilah sinar rembulan hanya sebuah pendaran saja
Tapi semuanya tetap tak menyurutkan suara gemuruh dilepas ke atas
dengan diiringi kerlap kerlip yang memabukkan mata
selamat, selamat, selamat....semoga lebih baik lagi di tahun depan..
jabat tangan, pelukan, doa, harapan, berhamburan dalam sinar bulan yang berpendar
Berganti sudah, mari segera berbenah
dan berpindah ke halaman sebelah
tulis cerita barumu dengan pena terbaikmu
(Raihan Lubis, 1 Januari 2015)






Monday, December 29, 2014

No More Tears..

Setelah 10 tahun gempa maha dahsyat dan tsunami menyapu sebagian kawasan Aceh, luka dan duka mencair sudah. Tapi kita harus tetap siaga. Karena bencana dari dasar laut tak pernah dapat diterka - Raihan Lubis


Cuplikan video ini menggambarkan bagaimana saya dan suami saya, Dendy Montgomery, berkejaran dengan gelombang laut yang tumpah ke daratan pascagempa bumi maha dahsyat 9.2 SR pada 26 Desember 2004 silam. Terimakasih tak terhingga untuk Mbak Dini Djalal yang telah memberikan saya sebuah kamera video ketika saya hijrah dari Jakarta ke Aceh- sehingga kami dapat mengabadikan salah satu bencana terbesar di abad modern ini. Dan terimakasih untuk semua saudara, sahabat, kolega dan banyak lainnya yang membantu keluarga kami pascatsunami. Terimakasih untuk segala bantuan dan perhatiannya..