Saturday, August 30, 2014

Danau Laut Tawar Suatu Pagi

Pada suatu masa, pada suatu pagi, pada dingin yang masih menggigiti kulit. Aku di sana -memandangi keelokanmu yang sungguh luar biasa. Kabut menari-nari di atas air dinginmu, ketika para nelayan menunggu dengan setia ikan depik tersangkut di jaring mereka. Oh Danau Laut Tawar, kaulah penawar rasa dingin ketika gigil merayap tubuhku pagi itu. Tak terasa berjam-jam aku di sana memandangmu, dan terjaga ketika terik mulai merambat dan mengusir kabut pagi itu.  (Danau Laut Tawar, Takengon, Aceh Tengah - Foto dan teks : Raihan Lubis)



Friday, August 29, 2014

Kota Tua Ampenan

Kota tua Ampenan di Lombok, bernasib sama seperti kota-kota tua lainnya di Indonesia. Sepi dan meranggas. Nama Ampenan berasal dari kata ‘amben’. Dalam bahasa Sasak, kata ini berarti tempat singgah. Tahun 1928, Belanda membangun pelabuhan Ampenan. Pelabuhan ini pernah tercatat sebagai pelabuhan yang sangat sibuk di Lombok. Sebagai kawasan pelabuhan, banyak suku bangsa yang kemudian menetap di kawasan ini. Sebuah gerbang bertulis Bangsal Melayu, menjadi pertanda. Tahun 70-an, kesibukan Kota Ampenan meredup seiring dipindahkannya pelabuhan ke Lembar. Kini, beberapa keturunan Tionghoa masih berdiam di sana. Toko roti yang buka sejak tahun 60-an juga masih ada. (Teks dan Foto : Raihan Lubis)

RAIHAN LUBIS

Saturday, August 23, 2014

Perempuan-perempuan Perkasa di Tanjung Luar, Lombok Timur

Di suatu pagi dalam sebuah perjalanan ke kawasan timur, bertemulah aku dengan para perempuan perkasa di Pelabuhan Tanjung Luar, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Perempuan-perempuan perkasa ini, berjibaku mencari rezeki dengan membeli ikan dari nelayan-nelayan yang baru merapat begitu subuh mendekat. Dan ketika ikan-ikan sudah terlihat di ujung mata, segera langkah-langkah panjang terayun- berkecipak di antara gelombang laut nan tenang. Pagi kemudian menjadi begitu sibuknya....(Foto & teks : Raihan Lubis)




Tuesday, August 19, 2014

Jelajah Bogor (1)

Perjalanan hidup membawa kami kini menetap di Bogor, Jawa Barat. Di sinilah kami sekarang - di antara kepungan bukit dan lembah-lembah kecil nan eksotis. Daerah yang menjadi tempat peristirahatan di zaman kolonial Belanda ini kini tengah berganti rupa - menjadi kota kaum urban yang malu-malu...(foto : Raihan)






Tuesday, June 3, 2014

Tentang Husnul dan Sekolah Alternatif di Desa Lambirah

Husnul dan anak didiknya. Foto:TPMT

Aceh tak melulu soal konflik vertikal, pertikaian antar kelompok, atau kontroversi penerapan syariat Islam. Aceh juga punya cerita lain, seperti Husnul dan sekolah alternatif yang didirikannya bersama teman-temannya. 

Penjahit Keliling

Trimo (23) dan Ali (18) berprofesi sebagai penjahit keliling yang selalu menyambangi kawasan tempat tinggal kami. Dari Jawa mereka datang ke Bogor untuk mencari peruntungan hidup yang lebih baik. Sudah empat tahun pekerjaan sebagai penjahit keliling mereka lakoni - umumnya menyisip dan memotong celana panjang. Dari pagi sampai petang mereka mengayuh sepeda dan menggoyang kaki agar rejeki bisa mengalir dan hidup terus berputar. Teks dan foto : Raihan Lubis














Wayan Rumi, Ubud dan Bali


Seorang perempuan tengah mengangkat
batako-batako untuk pembangunan sebuah
rumah di Nyuh Kuning, Ubud. Foto: Raihan

Perayaan Hari Galungan beberapa hari lalu mengingatkan saya pada Wayan Rumi. Perempuan muda yang telah memiliki seorang anak laki-laki itu sehari-hari membantu saya mengurusi urusan domestik rumah tangga - selama kami menetap di Nyuh Kuning, Ubud. Mbok Wayan, begitu kami sekeluarga memanggilnya.

Sekitar pukul 7 pagi, biasanya Mbok Wayan sudah nongol di dapur kami. Dengan sigap dia mencuci piring dan beres-beres. Jika anak-anak belum sarapan, dia akan membantu saya menyiapkan sarapan buat anak-anak. 

Sebelum ke rumah, Mbok Wayan akan bangun sekitar pukul 4 pagi. Begitu bangun dia segera sibuk di dapur rumahnya. Setelah itu, ketika tanah belum terang warnanya, dengan motor bebeknya, Mbok Wayan akan mengantar ibunya berbelanja ke pasar Sukowati. Usai dari pasar, dia akan menyiapkan anaknya untuk segera berangkat ke sekolah. Begitulah setiap harinya. Sementara suaminya juga akan bergegas ke tempat kerjanya di Klinik Yayasan Bumi Sehat. 

Keseharian Mbok Wayan setiap pagi selalu dapat saya saksikan. Kami tinggal dalam satu halaman. Rumah kami hanya dipisahkan satu bagian rumah. Nyuh Kuning merupakan salah satu desa tradisional di Ubud, di mana para orang tua yang memiliki tanah yang luas akan membangun bagian-bagian rumah untuk anak-anaknya dan juga sanak saudara yang terbilang dekat dalam satu lingkungan. Biasanya juga akan ada satu pura keluarga di bagian tengah halaman. Kami menempati satu bagian pertapakan, yang terdiri dari tiga ruangan dan satu kamar mandi. Semua ruang ini dibangun dalam satu pertapakan dengan tinggi sekitar 50 cm dari tanah. Dapur terletak di bagian belakang pertapakan rumah yang posisinya berjejer memanjang dengan bagian dapur bagian rumah lainnya.

Kadang-kadang jika tak sibuk, saya menyempatkan mampir ke dapur Mbok Wayan. Saya suka mendapati dirinya tengah membuat  wadah-wadah sesajen dari daun kelapa muda. Dalam hening dia bersenandung lagu Bali dengan lirih, sembari tangannya dengan lincah menekuk dan melipat daun-daun kelapa muda itu. Asap dan bau asap yang menyebar dari tungku kayu bakar di dapur tak membuat Mbok Wayan bergeming. Di lain waktu dia akan memasak kue-kue untuk sesajen. Di lain waktu lagi dia akan menata bunga-bunga dan kue-kue dalam tempat-tempat sesajen yang sudah dibuatnya. Dan di lain waktu, tak jarang juga melihat Mbok Wayan dengan gagah perkasa menjunjung batako sebanyak tiga atau empat buah di atas kepalanya. Dan di waktu lainnya pula, saya menyaksikannya Mbok Wayan bersama para perempuan Nyuh Kuning lainnya ikut mencor sebuah bangunan kolam renang. Oh Mbok Wayan…

Tak ada yang mudah buat para perempuan Bali di sekitar tempat kami tinggal. Mereka tak hanya mengurusi keluarga atau upacara keagamaan yang begitu seringnya. Tapi juga mereka harus mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya untuk bekerja apa saja demi menunjang ekonomi keluarga. Pengeluaran keuangan terbesar mereka adalah untuk upacara keagamaan. Tapi saya tak pernah mendengar Mbok Wayan mengeluhkan keadaannya. Dia menjalaninya dengan segala keikhlasan.

Satu-satu keluhannya yang pernah dia ucapkan cuma soal dia tidak pernah berbelanja di swalayan yang lumayan besar dan populer di Ubud. 

"Sampai sudah seumur ini saya belum pernah ke sana. Seperti apa di dalamnya bu? Tidak ada yang pernah mengajak saya ke sana, saya juga takut dan tidak berani pergi sendirian. Harga-harganya mahal nggak, bu. Tapi kalaupun saya ke sana, saya mau beli apa ya, bu ? Masa cuma lihat-lihat aja. Tapi kalau mau belanja, takut duit saya nggak cukup."

***
Di suatu sore saya melihat Mbok Wayan lari tergopoh-gopoh. Saya kejar dia. "Ada yang mati bunuh diri, bu." Saya tercekat.

Bagio, tetangga yang tinggal di seberang blok kawasan tempat tinggal kami ditemukan tewas setelah menggantung dirinya dengan kain selendang. Tubuhnya ditemukan tergantung di atas dipan reyot miliknya. Anaknya yang berusia 25 hari tertidur pulas di atas dipan. Si bayi tak menyadari jika ayahnya telah pergi meninggalkannya. 

Kematian Bagio segera menyebar di seluruh banjar (dusun). Orang-orang datang ke rumah Bagio yang terjepit di antara vila-vila mewah. Beberapa orang terlihat membawa perlengkapan upacara. Di Ubud, orang yang mati tak wajar harus segera dikubur dan dibuatkan upacara, agar arwahnya tak mengganggu dan kembali ke rumah sebelum ngaben digelar.

Orang-orang menyebut, keputusan Bagio mengakhiri hidupnya mungkin karena penyakit epilepsi yang menderanya, tapi juga ada yang berspekulasi karena kemiskinan yang membelit keluarganya. 

Kemiskinan memang bagai silent killer di Bali. Inilah salah satu sisi gelap Bali.

Cobalah bertanya pada art shop atau toko-toko silver yang ada di sekitar Bali, siapa pemilik mereka. Mungkin hanya nol koma nol sekian persen saja milik warga Bali. Selebihnya, milik warga asing dan juga orang-orang Indonesia yang berasal dari luar Bali. Jikapun terdaftar atas nama perempuan Bali, maka biasanya dia telah menikah dengan warga asing atau orang di luar Bali. Tengok juga bagaimana banjar-banjar telah disulap menjadi vila-vila mewah hingga terkadang hanya menyisakan sawah sebagai 'pemandangan' semata. 

Patung-patung yang dipahat dari kerasnya batu dan kayu serta lukisan-lukisan dibeli secara ijon - yang tentu saja dengan harga murah. Keserakahan kapitalisme telah mengurung orang-orang Bali dalam lingkaran kemiskinan yang tak habis-habisnya. Mereka hanya menjadi jongos di tanahnya sendiri, setelah berhektar-hektar tanah milik mereka dijual dengan 'harga murah' kepada para pemilik modal. Upah mereka sebagai jongos saban harinya, tak lebih banyak dari harga satu mangkuk salad yang dijual di resto atau kafe-kafe di Bali.

Kemewahan dan keindahan Bali hanya terpajang di ruang-ruang hotel berbintang dan vila-vila mewah serta brosur-brosur yang dicetak di atas kertas mengkilap. Di baliknya, kemiskinan menggeliat-geliat di sudut-sudut banjar yang sepi, lembab dan terkadang meranggas.

Selamat Hari Galungan, Mbok Wayan…sebuah perayaan hari kemenangan kebenaran (Dharma) di atas kejahatan (Adharma).