Saturday, April 5, 2014

Ketika Perdamaian itu Merapuh

Warisan konflik yang menyedihkan dapat dilihat di sejumlah komunitas di Aceh hari ini. Riwayat hidup para korban mengandung tanda-tanda seberapa besar ketidakadilan yang menimpa mereka, dan juga kesengsaraan yang terus mereka alami bahkan sampai hari ini. (Aceh setelah tsunami dan konflik: 2013 h.250 )

Tengku Abdulah Syafei bersama pasukan Inong Bale
Foto dipublikasikan di Majalah Gatra Edisi Juni 1999
Photo Credit : Nur Raihan (Raihan Lubis)
Seminggu sebelum pemilu 1999 digelar, saya turun ke Kabupaten Pidie di Aceh. Oleh Majalah Gatra, saya diminta untuk melaporkan kejadian menjelang Pemilu, menyusul permintaan beberapa lembaga seperti Kontras agar Pemilu di Aceh diundurkan. Boikot Pemilu juga kencang disuarakan di Aceh. Eskalasi kekerasan semakin meningkat. Korban tidak hanya di pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tapi juga di pihak TNI/Polri.


Saturday, April 13, 2013

Melepas Tukik ke Laut Lepas

Mari Lindungi Penyu di Aceh. Foto : Raihan
pergi ke laut lepas penyuku sayang..
pergi ke alam bebas...

Tahukah kalian kalau penyu salah satu hewan laut yang dilindungi ? Karena semakin hari jumlah mereka semakin sedikit dan nyaris punah. Karena, manusia terus memburu mereka untuk diambil daging dan cangkangnya. Selain itu, banyak penyu mati akibat terjaring alat tangkap nelayan dan juga mati tercekik karena makan sampah plastik yang ada di laut. Soalnya, penyu sering menyangka bahwa plastik-plastik itu ubur-ubur. Maklumlah, binatang yang bisa berusia sampai ratusan tahun ini, suka sekali makan ubur-ubur.

Nah, Jumat kemarin, anak-anak dari Komunitas Homeschooling Habib Alby dan abang-abang serta kakak-kakak dari Komunitas Kawasan Bina Bahari (KABARI) melepas anak penyu (tukik) ke laut lepas. Kegiatan ini merupakan rangkaian akhir dari pelepasan tukik yang sudah dilakukan beberapa kali dalam pekan ini. Ada 30 tukik jenis lekang yang dilepas ke laut. Sebelumnya ada lebih dari seratus tukik belimbing dan lekang yang dilepas ke laut lepas. Menurut Rahmad dari Kabari, tukik-tukik ini akan kembali lagi ke tempat di mana dia berasal sekitar 20 tahun mendatang untuk bertelur di tempat asalnya.


Melepas tukik ke laut. Foto : Raihan

Jadi, untuk menjaga agar penyu-penyu ini bisa kembali lagi ke daerah asalnya, mari kita menjaga kebersihan pantai dengan tidak membuang sampah sembarang, apalagi sampah plastik. Karena selain mencemari laut juga bisa membuat kematian para penyu.

Jadilah Orang tua dan Kakak Asuh Penyu

Selain tidak mengotori pantai dan laut, kita juga dapat melindungi penyu-penyu ini dengan menjadi kakak asuh. Caranya gampang. Menurut Yudi, setiap anak bisa mendonasikan uang sebesar Rp 3.000 untuk telur penyu kecil dan Rp 5.000 untuk telur penyu dengan ukuran yang agak besar. Nantinya, telur-telur ini akan dijaga KABARI sampai menetas, selama lebih kurang 50 hari. Gampang dan tidak susah kan untuk jadi kakak asuh penyu. Kalau masih penasaran, bisa langsung ke kawasan Pantai Babah Dua, Lampuuk, Aceh Besar. Kalian bisa melihat langsung konservasi penyu-penyu jenis lekang dan belimbing. Jadi mulai sekarang, mari kita lindungi penyu dari sekarang dan jangan biarkan mereka punah ya... (nur raihan lubis)

Foto-foto : Raihan

Thursday, April 11, 2013

Wisata Edukasi

SAVE SEA TURTLE



Tukik jenis penyu belimbing, Foto : Raihan
Tahukah kalian hewan laut bernama penyu ? Pasti sudah banyak yang tahu tentunya ya. Tapi tahu tidak kalau mereka itu salah satu hewan laut yang dilindungi. Karena, semakin hari jumlah mereka semakin berkurang bahkan nyaris punah, soalnya manusia suka mengambil daging dan cangkang mereka.Ayo, mari selamatkan mereka.

Selain banyak ditangkap untuk diambil daging dan cangkangnya, banyak penyu yang mati di laut karena mereka memakan plastic yang dibuang ke laut. Plastik-plastik ini oleh penyu terlihat seperti ubur-ubur, secara ubur-ubur merupakan makanan kesukaan mereka. Jadinya, banyak penyu mati tercekik akibat menelan sampah-sampah plastic ini.

Karena itu, anak-anak komunitas homeschooling Habib Alby dan juga anak-anak Taman Kanak-kanak Habib Alby, mengunjungi lokasi tempat konservasi penyu di pantai Babah Dua, Lampuuk, Aceh Besar. Tidak hanya agar mereka tahu soal penyu dan perlindungannya tapi juga untuk tidak buang sampah ke sungai yang akhirnya bermuara ke laut.

Konservasi penyu ini dikelola oleh abang-abang dan kakak-kakak dari Yayasan Kuala dibantu warga sekitarnya. Mereka melindungi tiap telur yang ada di sepanjang kawasan pantai Loknga sampai ke pantai Lampuuk di kawasan Aceh Besar. Menurut salah satu pengurusnya, Ramhad, pekerjaan ini tidak mudah, apalagi penduduk setempat yang mereka kenal sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai pencari telur penyu. Sosialisasi dan penyadaran tidak bisa dilakukan sekali dayung.

Bang Rahmad menunjukkan foto induk penyu. Foto : Raihan
"Tapi sekarang sudah jauh berkurang penduduk yang menggantungkan hidupnya dari berjualan telur penyu," ujar Rahmad. Meski sebenarnya ada undang-undang yang mengatur tentang pengambilan dan penjualan telur penyu ini, tapi peraturan tersebut masih sulit untuk dilaksanakan.

Ketika anak-anak dari Habib Alby berkunjung, anak-anak penyu atau disebut tukik ini telah berusia lebih dari seminggu. Tukik-tukik yang menetas ini berjenis lekang dan juga belimbing. Untuk menandai apakah tukik-tukiknya berjenis kelamin jantan atau betina, dapat dilihat dari ukurannya. Tukik jantan biasanya lebih panjang ukurannya dari ukuran tukik pada umumnya. Mereka lucu-lucu dan imut.

Bagi anak-anak lain atau siapa saja yang ingin melihat konservasi penyu ini secara langsung, bisa datang ke pantai Babah Dua, Lampuuk, Aceh Besar. Di sana bisa menemui Bang Rachmad atau Bang Yudi. Oh ya, kalau minat, juga bisa jadi orang tua asuh para penyu lho…(nur raihan)




foto-foto : Raihan


Wednesday, April 10, 2013

Main Musik Sampah untuk Earth Hour Aceh

Dendy Montgomery
anak-anak homeschooling memainkan alat musik dari barang bekas. Foto Dendy
Earth Hour Aceh melakukan street campaign medio Maret 2013 lalu. Street campaign ini berlangsung di seputaran kawasan car free day, di jalan Teungku Daud Beureueh, Banda Aceh. Anak-anak komunitas homeschooling Habib Alby, ikut berpartisipasi lho. Mereka bermain musik dengan barang-barang bekas sembari menyanyikan lagu-lagu bertema lingkungan.

Barang-barnag bekas yang mereka gunakan seperti galon bekas yang sudah bocor, bekas tempat cat, ember bekas -yang juga sudah pecah-, selain itu ada juga botol bekas, kaleng minuman bekas. Selain mendukung salah satu gerakan hemat energi, anak-anak ini juga belajar untuk menggunakan barang-barang bekas.

Tidak hanya anak-anak homeschooling setingkat Sekolah Dasar. Anak-anak TK, yang juga bernaung dalam wadah Habib Laby juga ikut nyanyi. Mereka juga memainkan alat musik semacam marakas, yang dibuat dari botol minuman plastik berukuran kecil yang diisi dengan kacang hijau.

Anak-anak menyanyikan 'Mari Menanam di Halaman Rumah'. foto : dendy
Selain beraksi dengan alat musik dari barang-barang bekas, mereka juga membagi-bagikan bibit pohon untuk ditanam. Hadir pada acara ini Wakil Walikota Banda Aceh, Ibu Illiza Sa'aduddin Djamal dan juga ada Kepala Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh, Pak Reza.

Aksi anak-anak tak hanya sampai di sini saja. Ketika malam puncak Earth Hour, pada tanggal 23 Maret, anak-anak Habib Alby juga bermain operet tentang bagaimana bahayanya jika menebang hutan sembarangan dan tidak mau menanam pohon. Aksi yang juga diawali dengan bermain musik sampah ini digelar di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh.

Berikut foto-foto kegiatannya. Mereka sudah beraksi, so mana aksimu....:)

Berfoto bersama wakil walikota Banda Aceh usai membagikan bibit pohon. foto : raihan






foto-foto : raihan
 (nur raihan lubis)


Thursday, February 14, 2013

Ketika Bus Menjadi Ruang Kelas

Semua tempat adalah sekolah. Semua orang adalah guru. Begitulah kira-kira paham yang kami anut. Karenanya, kami membawa anak-anak komunitas homeschooling tingkat Sekolah Dasar (SD), naik bus Damri keliling Kota Banda Aceh. Mereka akan belajar tentang transportasi umum bernama bus dan juga tentunya - pelajaran tentang moral.

Perjalanan dengan bus Damri - Foto : Sarah
Pelajaran dimulai ketika bus Damri yang kami tumpangi dari kawasan Merduati mulai bergerak perlahan memasuki kawasan Peunayong kemudian ke kawasan Simpang Lima. Tujuan perjalanan kami ke Perpustakaan Wilayah Provinsi Aceh.

Di bus, tentu saja anak-anak merasa excited. Maklumlah, anak-anak di Banda Aceh jarang menggunakan bus untuk perjalanan ke sekolah atau perjalanan dalam kota. Bus yang biasa dinaiki merupakan bus untuk perjalanan antar kota dan antar provinsi. Kendaraan umum yang biasa dipakai umumnya adalah becak bermotor atau angkutan kota sejenis minibus bernama 'labi-labi'

Perjalanan dengan bus - Foto : Raihan Lubis
Di dalam bus, anak-anak belajar bahwa mereka harus membayar ongkos sebagai bentuk dari imbalan jasa yang telah diberikan. Tak hanya ada supir bus, mereka juga kemudian mengenal profesi kondektur bus. Mereka juga melihat, ada sebagian penumpang yang turun dan ada yang naik dalam perjalanan. Mereka juga harus berbagi tempat duduk dengan penumpang lain yang tidak mereka kenal.

Mungkin ini hal yang biasa saja bagi banyak orang. Tapi tidak bagi anak-anak ini. Dalam perjalanan singkat ini, banyak hal yang dapat mereka petik sebagai pelajaran hidup. Semisal, menghargai penumpang lain yang ada bersama mereka di dalam bus, sehingga anak-anak tidak semaunya sendiri - seperti jika mereka berada di dalam mobil kendaraan pribadi orang tuanya. Karena dalam hidup, mereka perlu memperhatikan orang lain, lingkungan dan kelompok di luar mereka. Dengan begitu, mereka diharapkan dapat saling menghargai, tak hanya di kendaraan umum. Tetapi juga di lingkungan masyarakat di mana mereka tinggal dan akhirnya, mereka juga dapat memperhatikan kepentingan orang lain.

Belajar di Perpustakaan wilayah, Banda Aceh- Foto : Sarah
Pelajaran moral yang diajarkan dalam bentuk perjalanan singkat seperti ini, diharapkan lebih mudah tertanam dalam ingatan anak sampai ia besar kelak. Karena nilai-nilai moral tak hanya cukup dihapal dan diujiankan secara lisan dan tertulis. Kegiatan ringan dan sederhana dan sangat menyenangkan tentang nilai dan moral seperti ini, diharapkan dapat melekat dalam keseharian si anak.

Sisi lain dari perjalanan ini, anak-anak memahami tata cara naik kendaraan umum. Selain itu, kami juga mendapat informasi, bus Damri di Kota Banda Aceh hanya beroperasional dari pukul 8 pagi sampai pukul 1 siang. Pasalnya, semakin hari semakin sedikit penumpang - umumnya adalah mahasiswa Unsyiah- yang naik bus Damri. Para mahasiswa kini lebih banyak menggunakan sepeda motor, sebagai akibat dari mudahnya kredit sepeda motor saat ini. (nur raihan lubis )










Monday, December 31, 2012

Wisata Edukasi di Aceh


Doyan Coklat, Ayo ke Socolatte 


Raihan Lubis
Murid-murid semi homeschooling Sinar Mulia di gerai Socolatte,
Pidie Jaya. Foto : Nur Raihan Lubis
Belum punya agenda untuk jalan-jalan keluarga di musim libur ? Jika kebetulan anda berdomisili di Banda Aceh, tak perlu repot dan jauh. Banyak tempat yang bisa dikunjungi. Misalnya, kenapa tak mencoba berwisata ke kebun kakao dan pabrik coklat di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya? Seperti yang dilakukan para murid komunitas Semi Homeschooling Sinar Mulia ini.

Komunitas yang berbasis di Banda Aceh ini, tak hanya sekedar wisata jalan-jalan, tapi juga sekaligus mendapat pengetahuan tentang kebun kakao plus pengolahan biji kakao menjadi coklat bar. Hmm.. it’s yummy trip .

Saturday, December 8, 2012

Visit Aceh


Melirik Potensi Wisata Sungai 'Krueng Aceh'


Dan ada pada sama tengah taman itu su-ngai bernama Darul-'Ishki berturap dengan batu, terlalu jerneh ayer-nya, lagi amat sejok, barang siapa meminum dia sihat-lah tuboh-nya. ( Kitab Bustanu’s – Salatin, Nuru’d-din ar Raniri, 1636 Masehi )


Aceh
Pemandangan Krueng Aceh menuju laut lepas dari Jembatan Peunayong. Foto Nur Raihan Lubis
Sebuah perahu kecil melintas di Krueng Aceh
Foto : Nur Raihan Lubis


Sungai atau disebut krueng dalam bahasa Aceh memiliki peranan sangat penting di Aceh. Karena tak hanya dapat diandalkan sebagai jalur transportasi, tapi juga dapat dikembangkan menjadi sebuah potensi wisata. Pasalnya, sungguh banyak sungai di Aceh yang memiliki alur dan pemandangan yang elok. Selain itu, tiap aliran sungai punya cerita dan sejarahnya sendiri.

Sebut saja misalnya Krueng Aceh. Sungai yang membelah Kota Banda Aceh ini memiliki potensi wisata yang luar biasa. Dan agaknya tak berlebihan jika pemerintah daerah mulai melirik Krueng Aceh sebagai salah satu objek wisata sungai. Daya tariknya, tentu saja menyusuri aliran sungai yang menyimpan banyak sejarah itu dengan kapal wisata.

Memang tak mudah untuk merealisasikannya -dengan kondisi banyaknya sampah di sungai dan pendangkalan di beberapa kawasan. Tapi sekali lagi, tak ada salahnya berharap- entah tahun ini, tahun depan atau tahun depannya lagi. Karena bukan tak mungkin, napak tilas melalui wisata sungai ini benar-benar dapat kembali membawa kita ke tempat yang pernah dimaksud dengan 'taman kerajaan Aceh' itu. Karena jika kita telusuri, alur sungai yang dimaksud Nuru’d-din ar Raniri dalam kitabnya itu- masih ada hingga kini.( Nur Raihan Lubis )

Kapal-kapal yang merapat di sekitar Peunayong. Foto : Nur Raihan

Foto : Nur Raihan Lubis