Tuesday, June 3, 2014

Tentang Husnul dan Sekolah Alternatif di Desa Lambirah

Husnul dan anak didiknya. Foto:TPMT

Aceh tak melulu soal konflik vertikal, pertikaian antar kelompok, atau kontroversi penerapan syariat Islam. Aceh juga punya cerita lain, seperti Husnul dan sekolah alternatif yang didirikannya bersama teman-temannya. 

Penjahit Keliling

Trimo (23) dan Ali (18) berprofesi sebagai penjahit keliling yang selalu menyambangi kawasan tempat tinggal kami. Dari Jawa mereka datang ke Bogor untuk mencari peruntungan hidup yang lebih baik. Sudah empat tahun pekerjaan sebagai penjahit keliling mereka lakoni - umumnya menyisip dan memotong celana panjang. Dari pagi sampai petang mereka mengayuh sepeda dan menggoyang kaki agar rejeki bisa mengalir dan hidup terus berputar. Teks dan foto : Raihan Lubis














Wayan Rumi, Ubud dan Bali


Seorang perempuan tengah mengangkat
batako-batako untuk pembangunan sebuah
rumah di Nyuh Kuning, Ubud. Foto: Raihan

Perayaan Hari Galungan beberapa hari lalu mengingatkan saya pada Wayan Rumi. Perempuan muda yang telah memiliki seorang anak laki-laki itu sehari-hari membantu saya mengurusi urusan domestik rumah tangga - selama kami menetap di Nyuh Kuning, Ubud. Mbok Wayan, begitu kami sekeluarga memanggilnya.

Sekitar pukul 7 pagi, biasanya Mbok Wayan sudah nongol di dapur kami. Dengan sigap dia mencuci piring dan beres-beres. Jika anak-anak belum sarapan, dia akan membantu saya menyiapkan sarapan buat anak-anak. 

Sebelum ke rumah, Mbok Wayan akan bangun sekitar pukul 4 pagi. Begitu bangun dia segera sibuk di dapur rumahnya. Setelah itu, ketika tanah belum terang warnanya, dengan motor bebeknya, Mbok Wayan akan mengantar ibunya berbelanja ke pasar Sukowati. Usai dari pasar, dia akan menyiapkan anaknya untuk segera berangkat ke sekolah. Begitulah setiap harinya. Sementara suaminya juga akan bergegas ke tempat kerjanya di Klinik Yayasan Bumi Sehat. 

Keseharian Mbok Wayan setiap pagi selalu dapat saya saksikan. Kami tinggal dalam satu halaman. Rumah kami hanya dipisahkan satu bagian rumah. Nyuh Kuning merupakan salah satu desa tradisional di Ubud, di mana para orang tua yang memiliki tanah yang luas akan membangun bagian-bagian rumah untuk anak-anaknya dan juga sanak saudara yang terbilang dekat dalam satu lingkungan. Biasanya juga akan ada satu pura keluarga di bagian tengah halaman. Kami menempati satu bagian pertapakan, yang terdiri dari tiga ruangan dan satu kamar mandi. Semua ruang ini dibangun dalam satu pertapakan dengan tinggi sekitar 50 cm dari tanah. Dapur terletak di bagian belakang pertapakan rumah yang posisinya berjejer memanjang dengan bagian dapur bagian rumah lainnya.

Kadang-kadang jika tak sibuk, saya menyempatkan mampir ke dapur Mbok Wayan. Saya suka mendapati dirinya tengah membuat  wadah-wadah sesajen dari daun kelapa muda. Dalam hening dia bersenandung lagu Bali dengan lirih, sembari tangannya dengan lincah menekuk dan melipat daun-daun kelapa muda itu. Asap dan bau asap yang menyebar dari tungku kayu bakar di dapur tak membuat Mbok Wayan bergeming. Di lain waktu dia akan memasak kue-kue untuk sesajen. Di lain waktu lagi dia akan menata bunga-bunga dan kue-kue dalam tempat-tempat sesajen yang sudah dibuatnya. Dan di lain waktu, tak jarang juga melihat Mbok Wayan dengan gagah perkasa menjunjung batako sebanyak tiga atau empat buah di atas kepalanya. Dan di waktu lainnya pula, saya menyaksikannya Mbok Wayan bersama para perempuan Nyuh Kuning lainnya ikut mencor sebuah bangunan kolam renang. Oh Mbok Wayan…

Tak ada yang mudah buat para perempuan Bali di sekitar tempat kami tinggal. Mereka tak hanya mengurusi keluarga atau upacara keagamaan yang begitu seringnya. Tapi juga mereka harus mengerahkan seluruh tenaga dan kemampuannya untuk bekerja apa saja demi menunjang ekonomi keluarga. Pengeluaran keuangan terbesar mereka adalah untuk upacara keagamaan. Tapi saya tak pernah mendengar Mbok Wayan mengeluhkan keadaannya. Dia menjalaninya dengan segala keikhlasan.

Satu-satu keluhannya yang pernah dia ucapkan cuma soal dia tidak pernah berbelanja di swalayan yang lumayan besar dan populer di Ubud. 

"Sampai sudah seumur ini saya belum pernah ke sana. Seperti apa di dalamnya bu? Tidak ada yang pernah mengajak saya ke sana, saya juga takut dan tidak berani pergi sendirian. Harga-harganya mahal nggak, bu. Tapi kalaupun saya ke sana, saya mau beli apa ya, bu ? Masa cuma lihat-lihat aja. Tapi kalau mau belanja, takut duit saya nggak cukup."

***
Di suatu sore saya melihat Mbok Wayan lari tergopoh-gopoh. Saya kejar dia. "Ada yang mati bunuh diri, bu." Saya tercekat.

Bagio, tetangga yang tinggal di seberang blok kawasan tempat tinggal kami ditemukan tewas setelah menggantung dirinya dengan kain selendang. Tubuhnya ditemukan tergantung di atas dipan reyot miliknya. Anaknya yang berusia 25 hari tertidur pulas di atas dipan. Si bayi tak menyadari jika ayahnya telah pergi meninggalkannya. 

Kematian Bagio segera menyebar di seluruh banjar (dusun). Orang-orang datang ke rumah Bagio yang terjepit di antara vila-vila mewah. Beberapa orang terlihat membawa perlengkapan upacara. Di Ubud, orang yang mati tak wajar harus segera dikubur dan dibuatkan upacara, agar arwahnya tak mengganggu dan kembali ke rumah sebelum ngaben digelar.

Orang-orang menyebut, keputusan Bagio mengakhiri hidupnya mungkin karena penyakit epilepsi yang menderanya, tapi juga ada yang berspekulasi karena kemiskinan yang membelit keluarganya. 

Kemiskinan memang bagai silent killer di Bali. Inilah salah satu sisi gelap Bali.

Cobalah bertanya pada art shop atau toko-toko silver yang ada di sekitar Bali, siapa pemilik mereka. Mungkin hanya nol koma nol sekian persen saja milik warga Bali. Selebihnya, milik warga asing dan juga orang-orang Indonesia yang berasal dari luar Bali. Jikapun terdaftar atas nama perempuan Bali, maka biasanya dia telah menikah dengan warga asing atau orang di luar Bali. Tengok juga bagaimana banjar-banjar telah disulap menjadi vila-vila mewah hingga terkadang hanya menyisakan sawah sebagai 'pemandangan' semata. 

Patung-patung yang dipahat dari kerasnya batu dan kayu serta lukisan-lukisan dibeli secara ijon - yang tentu saja dengan harga murah. Keserakahan kapitalisme telah mengurung orang-orang Bali dalam lingkaran kemiskinan yang tak habis-habisnya. Mereka hanya menjadi jongos di tanahnya sendiri, setelah berhektar-hektar tanah milik mereka dijual dengan 'harga murah' kepada para pemilik modal. Upah mereka sebagai jongos saban harinya, tak lebih banyak dari harga satu mangkuk salad yang dijual di resto atau kafe-kafe di Bali.

Kemewahan dan keindahan Bali hanya terpajang di ruang-ruang hotel berbintang dan vila-vila mewah serta brosur-brosur yang dicetak di atas kertas mengkilap. Di baliknya, kemiskinan menggeliat-geliat di sudut-sudut banjar yang sepi, lembab dan terkadang meranggas.

Selamat Hari Galungan, Mbok Wayan…sebuah perayaan hari kemenangan kebenaran (Dharma) di atas kejahatan (Adharma). 





Saturday, April 5, 2014

Ketika Perdamaian itu Merapuh

Warisan konflik yang menyedihkan dapat dilihat di sejumlah komunitas di Aceh hari ini. Riwayat hidup para korban mengandung tanda-tanda seberapa besar ketidakadilan yang menimpa mereka, dan juga kesengsaraan yang terus mereka alami bahkan sampai hari ini. (Aceh setelah tsunami dan konflik: 2013 h.250 )

Tengku Abdulah Syafei bersama pasukan Inong Bale
Foto dipublikasikan di Majalah Gatra Edisi Juni 1999
Photo Credit : Nur Raihan (Raihan Lubis)
Seminggu sebelum pemilu 1999 digelar, saya turun ke Kabupaten Pidie di Aceh. Oleh Majalah Gatra, saya diminta untuk melaporkan kejadian menjelang Pemilu, menyusul permintaan beberapa lembaga seperti Kontras agar Pemilu di Aceh diundurkan. Boikot Pemilu juga kencang disuarakan di Aceh. Eskalasi kekerasan semakin meningkat. Korban tidak hanya di pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) tapi juga di pihak TNI/Polri.


Saturday, April 13, 2013

Melepas Tukik ke Laut Lepas

Mari Lindungi Penyu di Aceh. Foto : Raihan
pergi ke laut lepas penyuku sayang..
pergi ke alam bebas...

Tahukah kalian kalau penyu salah satu hewan laut yang dilindungi ? Karena semakin hari jumlah mereka semakin sedikit dan nyaris punah. Karena, manusia terus memburu mereka untuk diambil daging dan cangkangnya. Selain itu, banyak penyu mati akibat terjaring alat tangkap nelayan dan juga mati tercekik karena makan sampah plastik yang ada di laut. Soalnya, penyu sering menyangka bahwa plastik-plastik itu ubur-ubur. Maklumlah, binatang yang bisa berusia sampai ratusan tahun ini, suka sekali makan ubur-ubur.

Nah, Jumat kemarin, anak-anak dari Komunitas Homeschooling Habib Alby dan abang-abang serta kakak-kakak dari Komunitas Kawasan Bina Bahari (KABARI) melepas anak penyu (tukik) ke laut lepas. Kegiatan ini merupakan rangkaian akhir dari pelepasan tukik yang sudah dilakukan beberapa kali dalam pekan ini. Ada 30 tukik jenis lekang yang dilepas ke laut. Sebelumnya ada lebih dari seratus tukik belimbing dan lekang yang dilepas ke laut lepas. Menurut Rahmad dari Kabari, tukik-tukik ini akan kembali lagi ke tempat di mana dia berasal sekitar 20 tahun mendatang untuk bertelur di tempat asalnya.


Melepas tukik ke laut. Foto : Raihan

Jadi, untuk menjaga agar penyu-penyu ini bisa kembali lagi ke daerah asalnya, mari kita menjaga kebersihan pantai dengan tidak membuang sampah sembarang, apalagi sampah plastik. Karena selain mencemari laut juga bisa membuat kematian para penyu.

Jadilah Orang tua dan Kakak Asuh Penyu

Selain tidak mengotori pantai dan laut, kita juga dapat melindungi penyu-penyu ini dengan menjadi kakak asuh. Caranya gampang. Menurut Yudi, setiap anak bisa mendonasikan uang sebesar Rp 3.000 untuk telur penyu kecil dan Rp 5.000 untuk telur penyu dengan ukuran yang agak besar. Nantinya, telur-telur ini akan dijaga KABARI sampai menetas, selama lebih kurang 50 hari. Gampang dan tidak susah kan untuk jadi kakak asuh penyu. Kalau masih penasaran, bisa langsung ke kawasan Pantai Babah Dua, Lampuuk, Aceh Besar. Kalian bisa melihat langsung konservasi penyu-penyu jenis lekang dan belimbing. Jadi mulai sekarang, mari kita lindungi penyu dari sekarang dan jangan biarkan mereka punah ya... (nur raihan lubis)

Foto-foto : Raihan

Thursday, April 11, 2013

Wisata Edukasi

SAVE SEA TURTLE



Tukik jenis penyu belimbing, Foto : Raihan
Tahukah kalian hewan laut bernama penyu ? Pasti sudah banyak yang tahu tentunya ya. Tapi tahu tidak kalau mereka itu salah satu hewan laut yang dilindungi. Karena, semakin hari jumlah mereka semakin berkurang bahkan nyaris punah, soalnya manusia suka mengambil daging dan cangkang mereka.Ayo, mari selamatkan mereka.

Selain banyak ditangkap untuk diambil daging dan cangkangnya, banyak penyu yang mati di laut karena mereka memakan plastic yang dibuang ke laut. Plastik-plastik ini oleh penyu terlihat seperti ubur-ubur, secara ubur-ubur merupakan makanan kesukaan mereka. Jadinya, banyak penyu mati tercekik akibat menelan sampah-sampah plastic ini.

Karena itu, anak-anak komunitas homeschooling Habib Alby dan juga anak-anak Taman Kanak-kanak Habib Alby, mengunjungi lokasi tempat konservasi penyu di pantai Babah Dua, Lampuuk, Aceh Besar. Tidak hanya agar mereka tahu soal penyu dan perlindungannya tapi juga untuk tidak buang sampah ke sungai yang akhirnya bermuara ke laut.

Konservasi penyu ini dikelola oleh abang-abang dan kakak-kakak dari Yayasan Kuala dibantu warga sekitarnya. Mereka melindungi tiap telur yang ada di sepanjang kawasan pantai Loknga sampai ke pantai Lampuuk di kawasan Aceh Besar. Menurut salah satu pengurusnya, Ramhad, pekerjaan ini tidak mudah, apalagi penduduk setempat yang mereka kenal sebagian besar memiliki mata pencaharian sebagai pencari telur penyu. Sosialisasi dan penyadaran tidak bisa dilakukan sekali dayung.

Bang Rahmad menunjukkan foto induk penyu. Foto : Raihan
"Tapi sekarang sudah jauh berkurang penduduk yang menggantungkan hidupnya dari berjualan telur penyu," ujar Rahmad. Meski sebenarnya ada undang-undang yang mengatur tentang pengambilan dan penjualan telur penyu ini, tapi peraturan tersebut masih sulit untuk dilaksanakan.

Ketika anak-anak dari Habib Alby berkunjung, anak-anak penyu atau disebut tukik ini telah berusia lebih dari seminggu. Tukik-tukik yang menetas ini berjenis lekang dan juga belimbing. Untuk menandai apakah tukik-tukiknya berjenis kelamin jantan atau betina, dapat dilihat dari ukurannya. Tukik jantan biasanya lebih panjang ukurannya dari ukuran tukik pada umumnya. Mereka lucu-lucu dan imut.

Bagi anak-anak lain atau siapa saja yang ingin melihat konservasi penyu ini secara langsung, bisa datang ke pantai Babah Dua, Lampuuk, Aceh Besar. Di sana bisa menemui Bang Rachmad atau Bang Yudi. Oh ya, kalau minat, juga bisa jadi orang tua asuh para penyu lho…(nur raihan)




foto-foto : Raihan


Wednesday, April 10, 2013

Main Musik Sampah untuk Earth Hour Aceh

Dendy Montgomery
anak-anak homeschooling memainkan alat musik dari barang bekas. Foto Dendy
Earth Hour Aceh melakukan street campaign medio Maret 2013 lalu. Street campaign ini berlangsung di seputaran kawasan car free day, di jalan Teungku Daud Beureueh, Banda Aceh. Anak-anak komunitas homeschooling Habib Alby, ikut berpartisipasi lho. Mereka bermain musik dengan barang-barang bekas sembari menyanyikan lagu-lagu bertema lingkungan.

Barang-barnag bekas yang mereka gunakan seperti galon bekas yang sudah bocor, bekas tempat cat, ember bekas -yang juga sudah pecah-, selain itu ada juga botol bekas, kaleng minuman bekas. Selain mendukung salah satu gerakan hemat energi, anak-anak ini juga belajar untuk menggunakan barang-barang bekas.

Tidak hanya anak-anak homeschooling setingkat Sekolah Dasar. Anak-anak TK, yang juga bernaung dalam wadah Habib Laby juga ikut nyanyi. Mereka juga memainkan alat musik semacam marakas, yang dibuat dari botol minuman plastik berukuran kecil yang diisi dengan kacang hijau.

Anak-anak menyanyikan 'Mari Menanam di Halaman Rumah'. foto : dendy
Selain beraksi dengan alat musik dari barang-barang bekas, mereka juga membagi-bagikan bibit pohon untuk ditanam. Hadir pada acara ini Wakil Walikota Banda Aceh, Ibu Illiza Sa'aduddin Djamal dan juga ada Kepala Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh, Pak Reza.

Aksi anak-anak tak hanya sampai di sini saja. Ketika malam puncak Earth Hour, pada tanggal 23 Maret, anak-anak Habib Alby juga bermain operet tentang bagaimana bahayanya jika menebang hutan sembarangan dan tidak mau menanam pohon. Aksi yang juga diawali dengan bermain musik sampah ini digelar di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh.

Berikut foto-foto kegiatannya. Mereka sudah beraksi, so mana aksimu....:)

Berfoto bersama wakil walikota Banda Aceh usai membagikan bibit pohon. foto : raihan






foto-foto : raihan
 (nur raihan lubis)