Monday, October 20, 2014

Kepada Yth.Bapak Joko Widodo

Pak Joko Widodo...,
siang tadi saya bersama ribuan rakyat Indonesia menunggu bapak melintas di sepanjang jalan Sudirman - Thamrin.  Diantara ribuan rakyat  itu, ada Ki Joko Wasis  -pelukis asal Yogyakarta yang melukis wajah bapak di sebuah kanvas besar. Kanvas itu dipasang di belakang sebuah becak bermotor. Tanpa alas kaki, di tengah garangnya sinar matahari, Ki Joko Wasis mengikuti pelan becak bermotor itu sambil terus melukis. Tak hanya Ki Joko Wasis yang berpanas-panas untuk menunjukkan harapannya pada, bapak. Ada ribuan orang di sana, pak. Dan sungguh saya tidak bisa membayangkan, bagaimana kecewa dan marahnya mereka jika di kemudian hari -dalam perjalanan bapak sebagai presiden Indonesia- tidak bisa mewujudkan apa yang pernah bapak janjikan. Jadi pak, tolonglah tetap berpegang pada komitmen untuk menjadikan Indonesia lebih baik dan lebih hebat lagi. Untuk melibas para koruptor dan juga mafia-mafia yang selama ini menyengsarakan rakyat, untuk memajukan ekonomi Indonesia, untuk tidak melakukan politik transaksional, dan hal lainnya yang sudah bapak janjikan. Tolong ya pak, jangan jadikan semuanya hanya pepesan kosong belaka - salam, Raihan Lubis.









foto-foto: Raihan Lubis

Sunday, October 19, 2014

Agam, Si Anak Gajah yang Bertahan Hidup

Agam menjalani perawatan.
Foto: Koleksi Peduli Raju - Bayi Gajah
Yatim Piatu di Aceh
Ibarat cerita Harry Potter, begitulah cerita Agam - seekor anak gajah berusia dua tahun yang kini berjuang agar tetap bisa bertahan hidup. 

Cerita Agam bermula pada Desember 2012 silam, ketika tubuh mungilnya tercebur di sebuah sumur tua di Desa Seuneubok Bayu, Aceh Timur. Untunglah warga secara tak sengaja menemukannya. Ketika ditemukan, tubuh mungilnya kuyup, kedinginan dan kelelahan setelah terjebak hampir semalaman di sumur tua itu. Tidak ada induk yang mendampinginya di sana. Warga yang menyelamatkannya memperkirakan, Agam terjatuh ke sumur tua itu ketika rombongan gajah melintas di kawasan tersebut. Karena tidak bisa ditolong, ibu dan kawanan gajah yang bersamanya diperkirakan meninggalkannya sendirian. Warga kemudian menyematkan nama Agam pada gajah mungil itu. Sekarang, Agam dirawat dan dititipkan di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh Besar.

Sayangnya, karena terjatuh dan terkilir ketika tengah bermain pada pertengahan Mei 2014, Agam mengalami dislokasi tulang panggul kaki belakang. Tubuhnya yang berbobot hampir 415 kg itu tak dapat disangganya. Dokter hewan dari sebuah lembaga konservasi yang merawatnya angkat tangan, nyaris tak ada opsi untuk menolongnya.


Saturday, October 18, 2014

Hiu-hiu di Tanjung Luar, Lombok Timur

Konon, Tanjung Luar, Lombok Timur, disebut sebagai pasar hiu, manta dan jenis pari lainnya yang paling agresif di dunia. Ironinya, perburuan dan pelelangan hiu di Tanjung Luar bukanlah tradisi turun temurun. Mereka terpaksa berburu hiu atau pari karena terbelit utang pada rentenir dan harus membayarnya dalam bentuk tangkapan hiu. Ada juga nelayan yang secara khusus dimodali untuk melaut dan menangkap hiu atau pari. Pasca dilelang, hiu-hiu dan manta akan langsung dibawa ke Jakarta, Bali, Surabaya dengan tujuan akhir Hong Kong dan Cina daratan. Tragisnya, penangkapan ini tak banyak menyumbang nilai ekonomi bagi nelayan di sekitar Lombok Timur, sebaliknya - kerusakan lingkungan yang ditimbulkannya tak bisa dinilai. (Membuka-buka file lama setelah membaca berita soal isu ini -teks dari berbagai sumber, foto : Raihan Lubis)






Friday, September 26, 2014

Stasiun Kota Jakarta




Stasiun Kota - dibangun pada tahun 1914 dan diresmikan pada 8 Oktober 1929. Dulunya bernama Stasiun Batavia Ooster Spoorweg MIJ. Sekarang merupakan stasiun ujung (Kop Station) dan memiliki jalur terbanyak di Indonesia, sebanyak 12 jalur. (foto : Raihan Lubis)



Saturday, August 30, 2014

Danau Laut Tawar Suatu Pagi

Pada suatu masa, pada suatu pagi, pada dingin yang masih menggigiti kulit. Aku di sana -memandangi keelokanmu yang sungguh luar biasa. Kabut menari-nari di atas air dinginmu, ketika para nelayan menunggu dengan setia ikan depik tersangkut di jaring mereka. Oh Danau Laut Tawar, kaulah penawar rasa dingin ketika gigil merayap tubuhku pagi itu. Tak terasa berjam-jam aku di sana memandangmu, dan terjaga ketika terik mulai merambat dan mengusir kabut pagi itu.  (Danau Laut Tawar, Takengon, Aceh Tengah - Foto dan teks : Raihan Lubis)



Friday, August 29, 2014

Kota Tua Ampenan

Kota tua Ampenan di Lombok, bernasib sama seperti kota-kota tua lainnya di Indonesia. Sepi dan meranggas. Nama Ampenan berasal dari kata ‘amben’. Dalam bahasa Sasak, kata ini berarti tempat singgah. Tahun 1928, Belanda membangun pelabuhan Ampenan. Pelabuhan ini pernah tercatat sebagai pelabuhan yang sangat sibuk di Lombok. Sebagai kawasan pelabuhan, banyak suku bangsa yang kemudian menetap di kawasan ini. Sebuah gerbang bertulis Bangsal Melayu, menjadi pertanda. Tahun 70-an, kesibukan Kota Ampenan meredup seiring dipindahkannya pelabuhan ke Lembar. Kini, beberapa keturunan Tionghoa masih berdiam di sana. Toko roti yang buka sejak tahun 60-an juga masih ada. (Teks dan Foto : Raihan Lubis)

RAIHAN LUBIS

Saturday, August 23, 2014

Perempuan-perempuan Perkasa di Tanjung Luar, Lombok Timur

Di suatu pagi dalam sebuah perjalanan ke kawasan timur, bertemulah aku dengan para perempuan perkasa di Pelabuhan Tanjung Luar, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Perempuan-perempuan perkasa ini, berjibaku mencari rezeki dengan membeli ikan dari nelayan-nelayan yang baru merapat begitu subuh mendekat. Dan ketika ikan-ikan sudah terlihat di ujung mata, segera langkah-langkah panjang terayun- berkecipak di antara gelombang laut nan tenang. Pagi kemudian menjadi begitu sibuknya....(Foto & teks : Raihan Lubis)