Friday, May 29, 2015

Catatan Harian Seorang Komuter : Rezeki

foto: Raihan Lubis
Bagi saya yang seorang komuter KRL Jabodetabek,  rezeki itu tidak hanya dalam bentuk materi. Mendapat duduk di kereta, pada jam-jam sibuk juga merupakan rezeki. Dan demi mencari rezeki itu, tak jarang saya harus melakukan perjalanan dengan kereta balik yang cukup memakan waktu.

Perjalanan kereta balik itu begini, jika saya berangkat ke Jakarta, maka terlebih dahulu saya akan naik kereta jurusan Bogor dari Stasiun Cilebut -stasiun tempat saya naik yang berjarak satu stasiun dari Stasiun Bogor. Dan setelah itu, ketika kereta sudah tiba di Stasiun Bogor, dengan kereta yang sama saya akan melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Kalau kebetulan saya naik kereta balik jurusan Jakarta Kota, maka rezeki saya bertambah – selain dapat duduk juga mendapat jurusan kereta yang saya inginkan.  Tapi kalau saya kebetulan naik kereta balik jurusan Tanah Abang – Jatinegara, maka dipastikan saya harus tetap berdiri 3-4 stasiun sebelum sampai di stasiun tujuan. Tapi tak apalah. Tetap harus bersyukur.

Wednesday, April 1, 2015

Serial Hia dan Zee : Pelajaran Paling Penting di Dunia



Namanya Zayyan Arkan Montgomery. Panggilannya Zee. Tapi karena dia paling bungsu di rumah, kami lebih sering memanggilnya Adek. Usianya tujuh tahun.

 Sekarang Adek tengah duduk di kelas 1 Sekolah Dasar. Adek bersekolah di sekolah umum. Satu setengah tahun lalu, ketika kami masih hidup berpindah-pindah dan agak nomaden, Adek menjalani home schooling murni bersama papanya di rumah. Tak heran, kalau dia suka mentasbihkan dirinya sudah kelas dua SD saat ini.

Meski pernah menjalani home schooling murni, Adek sepertinya tak terlalu sulit beradaptasi dengan dunia sekolah umum. Meski kadang dia mengaku lelah. Maklumlah, sekolahnya agak jauh dari rumah. Jam enam pagi, dia sudah harus berangkat bersama abangnya. Sekitar pukul setengah tiga siang, Adek baru kembali ke rumah. Adek melewatkan makan siangnya di sekolah.

Di hari-hari tertentu, dia hanya bisa tidur siang sebentar setelah pulang sekolah, karena harus segera pergi les.

 “Adek ini kayak orang kerja aja ya, Ma. Pergi pagi, pulang sore. Adek capek, Ma.” Katanya suatu hari.

Sejak dalam kandungan sampai brojolnya, anak keduaku ini rada fenomenal.

Dengan Land Lover tua kami, papanya membawaku ke klinik bersalin di suatu malam buta. Land Lover panjang itu hanya beratap di bagian depan. Bagian bak belakang setengah bertutup kanvas dan setengahnya lagi terbuka. Aku suka menyebut mobil itu bergaya ‘moon roof’. Perjalanan ke klinik bersalin malam itu sungguh sangatlah lamanya.

Dan entah karena kami ke klinik dengan mobil ‘open cab’ seperti itu, entah karena memang genetis atau karena daya tahan tubuhnya, sampai sekarang Adek suka mual kalau naik mobil bagus, tertutup dan ber-AC. Tapi kalau Adek naik mobil open cab atau apalah namanya yang ada bak belakang atau kabinnya terbuka-terbuka gitu, sejauh apapun perjalanan – dia mah santai saja.

 Ketika makan malam beberapa hari lalu, dia bertanya begini padaku: “Mama, pelajaran apa yang paling penting di dunia ini?”

 “Pelajaran budi pekerti,” jawabku.

 “Pelajaran apa itu,” tanyanya lagi.

 “Pelajaran tentang ahlak, tingkah laku, sikap seseorang,” jawabku.

 “Itu lo Dek, pelajaran karakter. Kejujuran, tahu terimakasih, ketaatan. Pelajaran-pelajaran karakter Dek” jawab Hia memberi contoh. Ketika TK, sekolahnya memberikan pelajaran karakter.  Hia adalah abangnya- yang umurnya bertaut dua tahun darinya.

 “Oh itu, pelajaran-pelajaran kayak di PPKN itu ya, Ma,” ujarnya menyebut salah satu mata pelajaran di sekolahnya- yang mempelajari tentang sikap dan tingkah laku yang baik.

Aku mengangguk.

“Kenapa paling penting? Bukannya matematika atau Bahasa Inggris yang penting?”

 “Adek tahu nggak koruptor-koruptor yang di tivi-tivi itu. Mereka itu kan nggak ada budi pekertinya. Dan sebenarnya mereka orang yang pintar-pintar kan ma,” sela abangnya lagi setengah bertanya padaku- untuk meyakinkan dirinya –dan tentu saja adiknya.

 "Ho oh," jawabku sembari mengangguk. Kubiarkan mereka berdua berbicara dengan cara mereka.

“Oh gitu. Jadi mereka orang-orang yang pintar tapi nggak punya budi pekerti.”

 “Iya, Dek,” kata Hia lagi.

“Oh, jadi nggak cukup pintar aja ya, Ma?” tanya Adek lagi- yang bagiku lebih mirip pernyataan sebenarnya. ***

Thursday, March 19, 2015

Bemo Riwayatmu Kini

Foto : Raihan Lubis
Becak bermotor atau disingkat Bemo. Demikian kita mengenal nama angkutan umum roda tiga ini. Mulai digunakan di Jakarta pada tahun 1962, menjelang digelarnya Games of the New Emerging Forces (GANEFO) - sebuah pesta olahraga negara-negara berkembang yang digagas oleh Presiden Soekarno bersama negara-negara yang menyebut dirinya anti imperialis saat itu.

Di Jepang yang merupakan tempat asalnya, angkutan ini hanya digunakan untuk mengangkut barang. Karena itulah, desain bagian belakang agak sempit ketika dipasang
Foto : Raihan Lubis

bangku penumpang. Dalam kondisi penuh dengan enam orang penumpang, lutut para penumpang dipastikan akan saling beradu.

Sejak tahun 1971, keberadaan bemo di Jakarta sudah mulai ditarik dari jalanan. Tapi toh sampai abad milenium ini, masih bisa kita saksikan keberadaanya di beberapa ruas jalan Jakarta. Seperti di kawasan Benhil, Pejompongan dan juga di depan Stasiun Manggarai. Mau mencoba naik bemo? Jauh dekat ongkosnya 3000 rupiah saja. Foto-foto dan teks : Raihan Lubis


Foto Raihan Lubis





Foto: Raihan Lubis


Wednesday, February 25, 2015

Menyusuri Pecinan Bogor

Salah satu rumah tua beratap pelana di Jl.Surya Kencana, Bogor
Dalam beberapa tahun terakhir ini, saya suka sekali menyusuri kawasan Pecinan. Pertama tentu saja soal kulinernya. China Twon atau sering disebut Pecinan, pasti dan tak diragukan merupakan salah satu pusat kuliner di berbagai kota. Kedua, identik dengan bangunan tua. Demikian juga pecinana di Bogor, Jawa Barat.

Sebagaimana umumnya kawasan Pecinan lainnya di berbagai kota di Indonesia, Pecinan Bogor juga dekat dengan kawasan Pasar - tepatnya Pasar Bogor. Terletak di bagian Jalan Surya Kencana - yang merupakan bagian dari jalan Raya Pos Daendels. Dahulu, jalan ini bernama Handelstraat atau jalan Perniagaan -yang menandakan fungsinya sebagai sentra ekonomi. Disebutkan, golongan atas peranakan Tionghoa biasanya tinggal di bagian selatan. Mereka mendirikan rumah yang bergaya campuran Tionghoa - Eropa. Sedangkan golongan pedagang berkumpul di sekitar Pasar Bogor, dan golongan bawah menghuni ruko-ruko sewa dan rumah-rumah petak di balik ruko.

Friday, February 13, 2015

Pak Adang Pedagang Kembang

Pak Adang sudah melewati puluhan tahun dalam usaha kembang di trotoar ruas jalan Surya Kencana, Bogor, Jawa Barat. Dia sudah berkecimpung dalam bisnis kembang ini, jauh sebelum dirinya betul-betul menjadi pedagang kembang di sana.

“Sudah sejak zaman Belanda, kakek saya jual kembang di sini,” katanya. Pak Adang sendiri merupakan generasi ketiga.

Jalan Surya Kencana, merupakan bagian kawasan Pecinan di Bogor. Selain menjadi salah satu lokasi kuliner Bogor, banyak pedagang kembang yang dapat ditemukan di kawasan -yang merupakan bagian Jalan Raya Pos Daendels ini.

Jika ke Bogor, mampirlah ke tempat Pak Adang untuk membeli kembang.
Foto-foto : Raihan Lubis


Friday, January 30, 2015

Bu Erna #Inspirasi

"Yang kota, yang kota..ayo kereta segera masuk. Kereta Bogor masih di Depok" Suara teriakan Bu Erna menggema di pintu masuk gerbang Stasiun Cilebut. Orang-orang yang kebetulan akan naik kereta jurusan Jakarta Kota, segera bergegas. Sementara yang naik jurusan Sudirman-Tanah Abang-Jatinegara bisa sedikit melenggang menuju pintu tap kartu.

Bu Erna bukan petugas security di Stasiun Cilebut. Bukan pula seorang petugas informasi. Bu Erna seorang pedagang asongan di depan pintu masuk gerbang Stasiun Cilebut.

Lewat aksinya itu, Bu Erna tak hanya menginformasikan jadwal masuk kereta yang paling update, tapi juga menjaring pelanggan. Pasalnya, mereka yang merasa keretanya masih jauh - dapat singgah dulu membeli permen, tisu atau masker pada Bu Erna. Ada tiga pedagang asongan di sekitar Stasiun Cilebut. Tapi Bu Erna yang sepertinya punya lebih banyak pelanggan.

Setahun lalu, Bu Erna hanya membawa barang dagangannya dalam satu wadah plastik yang diberi tali di bagian kiri dan kanan agar dapat dikalungkan di leher, dan berjalan hilir mudik. Kini, dengan bertambahkanya jumlah dan jenis-jenis barang dagangannya, Bu Erna ngetem di dekat pintu stasiun dengan dua buah kursi plastik. (Meski saat ini sebenarnya Bu Erna rada ketar-ketir karena stasiun lagi sibuk 'bersih-bersih').

Begitulah. Sambil sesekali meneriakkan kata-kata permen, masker atau tisu, informasi tentang kedatangan kereta selalu meluncur dari mulut Bu Erna - melebihi informasi yang dikeluarkan dari pengeras suara di stasiun. Pengeras suara di stasiun hanya menginformasikan kereta yang segera masuk dalam satu kali pemberitahuan. Sementara Bu Erna, akan terus-terusan menginformasikan kereta yang segera masuk- tanpa henti -sampai kereta yang dimaksud benar-benar sampai di peron. Jadi, kalau seseorang ketinggalan informasi tentang kereta yang bakal masuk Stasiun Cilebut, tanyalah Bu Erna sebelum tap kartu di pintu masuk.

Wednesday, January 28, 2015

Ketika Markas The Jakmania Tergusur

Markas The Jakmania -sebutan bagi supporter Persija- di Stadion Lebak Bulus, Jakarta, segera tergusur, menyusul akan segera dibangunnya depo MRT Jakarta di area tersebut. Tak ada lagi pertemuan-pertemuan supporter Macan Kemayoran itu di sana- setelahnya. Kini, hanya ada dua boneka ondel-ondel yang menyambut kita di kantor yang sepi itu, dan juga curahan hati yang ditulis pada dinding bangunan stadion. Begitulah, pembangunan selalu seperti dua sisi mata uang. Foto-foto: Raihan Lubis.