Wednesday, February 25, 2015

Menyusuri Pecinan Bogor

Salah satu rumah tua beratap pelana di Jl.Surya Kencana, Bogor
Dalam beberapa tahun terakhir ini, saya suka sekali menyusuri kawasan Pecinan. Pertama tentu saja soal kulinernya. China Twon atau sering disebut Pecinan, pasti dan tak diragukan merupakan salah satu pusat kuliner di berbagai kota. Kedua, identik dengan bangunan tua. Demikian juga pecinana di Bogor, Jawa Barat.

Sebagaimana umumnya kawasan Pecinan lainnya di berbagai kota di Indonesia, Pecinan Bogor juga dekat dengan kawasan Pasar - tepatnya Pasar Bogor. Terletak di bagian Jalan Surya Kencana - yang merupakan bagian dari jalan Raya Pos Daendels. Dahulu, jalan ini bernama Handelstraat atau jalan Perniagaan -yang menandakan fungsinya sebagai sentra ekonomi. Disebutkan, golongan atas peranakan Tionghoa biasanya tinggal di bagian selatan. Mereka mendirikan rumah yang bergaya campuran Tionghoa - Eropa. Sedangkan golongan pedagang berkumpul di sekitar Pasar Bogor, dan golongan bawah menghuni ruko-ruko sewa dan rumah-rumah petak di balik ruko.

Friday, February 13, 2015

Pak Adang Pedagang Kembang

Pak Adang sudah melewati puluhan tahun dalam usaha kembang di trotoar ruas jalan Surya Kencana, Bogor, Jawa Barat. Dia sudah berkecimpung dalam bisnis kembang ini, jauh sebelum dirinya betul-betul menjadi pedagang kembang di sana.

“Sudah sejak zaman Belanda, kakek saya jual kembang di sini,” katanya. Pak Adang sendiri merupakan generasi ketiga.

Jalan Surya Kencana, merupakan bagian kawasan Pecinan di Bogor. Selain menjadi salah satu lokasi kuliner Bogor, banyak pedagang kembang yang dapat ditemukan di kawasan -yang merupakan bagian Jalan Raya Pos Daendels ini.

Jika ke Bogor, mampirlah ke tempat Pak Adang untuk membeli kembang.
Foto-foto : Raihan Lubis


Friday, January 30, 2015

Bu Erna #Inspirasi

"Yang kota, yang kota..ayo kereta segera masuk. Kereta Bogor masih di Depok" Suara teriakan Bu Erna menggema di pintu masuk gerbang Stasiun Cilebut. Orang-orang yang kebetulan akan naik kereta jurusan Jakarta Kota, segera bergegas. Sementara yang naik jurusan Sudirman-Tanah Abang-Jatinegara bisa sedikit melenggang menuju pintu tap kartu.

Bu Erna bukan petugas security di Stasiun Cilebut. Bukan pula seorang petugas informasi. Bu Erna seorang pedagang asongan di depan pintu masuk gerbang Stasiun Cilebut.

Lewat aksinya itu, Bu Erna tak hanya menginformasikan jadwal masuk kereta yang paling update, tapi juga menjaring pelanggan. Pasalnya, mereka yang merasa keretanya masih jauh - dapat singgah dulu membeli permen, tisu atau masker pada Bu Erna. Ada tiga pedagang asongan di sekitar Stasiun Cilebut. Tapi Bu Erna yang sepertinya punya lebih banyak pelanggan.

Setahun lalu, Bu Erna hanya membawa barang dagangannya dalam satu wadah plastik yang diberi tali di bagian kiri dan kanan agar dapat dikalungkan di leher, dan berjalan hilir mudik. Kini, dengan bertambahkanya jumlah dan jenis-jenis barang dagangannya, Bu Erna ngetem di dekat pintu stasiun dengan dua buah kursi plastik. (Meski saat ini sebenarnya Bu Erna rada ketar-ketir karena stasiun lagi sibuk 'bersih-bersih').

Begitulah. Sambil sesekali meneriakkan kata-kata permen, masker atau tisu, informasi tentang kedatangan kereta selalu meluncur dari mulut Bu Erna - melebihi informasi yang dikeluarkan dari pengeras suara di stasiun. Pengeras suara di stasiun hanya menginformasikan kereta yang segera masuk dalam satu kali pemberitahuan. Sementara Bu Erna, akan terus-terusan menginformasikan kereta yang segera masuk- tanpa henti -sampai kereta yang dimaksud benar-benar sampai di peron. Jadi, kalau seseorang ketinggalan informasi tentang kereta yang bakal masuk Stasiun Cilebut, tanyalah Bu Erna sebelum tap kartu di pintu masuk.

Wednesday, January 28, 2015

Ketika Markas The Jakmania Tergusur

Markas The Jakmania -sebutan bagi supporter Persija- di Stadion Lebak Bulus, Jakarta, segera tergusur, menyusul akan segera dibangunnya depo MRT Jakarta di area tersebut. Tak ada lagi pertemuan-pertemuan supporter Macan Kemayoran itu di sana- setelahnya. Kini, hanya ada dua boneka ondel-ondel yang menyambut kita di kantor yang sepi itu, dan juga curahan hati yang ditulis pada dinding bangunan stadion. Begitulah, pembangunan selalu seperti dua sisi mata uang. Foto-foto: Raihan Lubis.


Laki-laki yang Menunggu Hujan #Inspirasi

Pak Arifin dan payungnya. Foto: Raihan Lubis
“Lagi nunggu siapa, Neng?” tanyanya.

“Menunggu teman, Pak,” jawabku sembari melempar senyum. Dia bertanya begitu, karena dari tadi aku mengabaikan segala macam angkutan umum yang melintas di depanku, dan sebentar-bentar melihat ke arah jam dan juga ponselku.

“Kalau bapak sedang menunggu hujan,” katanya kemudian tanpa kutanya. Dia melempar senyum balik yang lebar kepadaku.

Kami berdua tertawa.

Saturday, January 17, 2015

Tangan-tangan Perkasa di Jalur MRT Jakarta

Di balik alat-alat berat dan juga peralatan canggih lainnya, ada tangan-tangan pekerja yang memberikan sentuhan-sentuhan pada tiap-tiap sisi jalur MRT Jakarta, yang kini tengah dibangun di ruas Lebak Bulus - Bundaran HI. Jadi, jika suatu hari di tahun 2018 nanti, para bapak, ibu, om, tante, nenek, kakek, mas, mbak, kakak, abang, atau adik naik itu MRT Jakarta, bolehlah diingat bahwa di balik transportasi massal itu - ada sentuhan tangan dan peluh mereka. Foto-foto : Raihan Lubis